Bangun Aset : Akselerasi Cash Flow (Bagian 2)

94
0
SHARE

Kali ini kita akan membahas bagaimana cara pengelolaan aset di fase bisnis rintisan atau bisnis yang baru berdiri. Bagi anda yang sedang belajar bisnis atau memulai bisnis, hal ini wajib diketahui. Seperti halnya di Kampus Bisnis Umar Usman, pada semester pertama, bahkan di Bulan pertama perkuliahan, materi basic tentang cashflow ini sudah diajarkan.

Silahkan simak juga Video dari Kang Dewa Eka Prayoga yang sangat bermanfaat terkait dengan Cashflow

Pada tulisan bagian pertama, telah kita bahas bagaimana seorang kreator bisnis pada fase rintis memulai bisnisnya, diantaranya harus memahami pengelolaan Cash Flow agar bisnisnya tetap berjalan dan aman. Pada tulisan kedua ini, kita akan bahas bagaimana seorang kreator mengelola SDM dan memaksimalkan potensinya.

Di Indonesia, langkah awal yang persis sama diikuti oleh Ahmad Zaki, pendiri marketplace Bukalapak. Ia memulai karirnya dengan menjual keterampilan di bidang IT, dan ketika mendirikan Bukalapak, Ahmad Zaky membuka ruang kerjanya di garasi rumah. Awalnya hanya dengan tiga orang tim kerja, satu staf, satu bantu-bantu, dan satu lagi Ahmad Zaky sendiri. Modalnya pun hanya Rp 500.000,-untuk membeli domain dan hosting berkapasitas kecil.

Saat itu, banyak hal dilakukan Ahmad Zaky sendirian, bahkan dengan mengajak para pedagang untuk menjual barang dagangannya di situs yang dibuatnya. Usahanya yang tak kenal lelah akirnya mulai berbuah. Ketika jumlah pedagang bertambah, bertambah pula pencari barang di situs ini. Setelah tampak meyakinkan, Bukalapak pun mendapatkan suntikan dana dari Investor

Dengan bantuan pendanaan inilah Bukalapak kemudian berkembang. Dana tersebut digunakan untuk menambah server dan karyawan. Saat ini, terhitung ada 320 orang staf yang menjalankan operasional di marketplace asli Indonesia ini.

 

“Modal akan datang dengan sendirinya kalau kita tunjukan keberanian bisnis dan kualitas produk yang kita berikan” Ahmad Zaky

 

 

Fotografer Dewandra pun berbagi cerita, sejak memulai karirnya sebagai fotografer pada tahun 2003, butuh 3-4 tahun hingga bisnisnya mulai komplit. “Bisnis ini benar-benar sudah lengkap kira-kira sekitra tahun 2006, sekitar tahun 2007 sudah mulai membayar pajak dan tahun 2008 sudah mulai memiliki dua asisten. Sekarang asistennya sudah berjumlah 11 orang.

Apa yang dijalani Ahmad Zaky dengan Bukalapaknya ataupun proses bertumbuhnya Dewandra adalah gambaran fase awal bisnis di tahapan rintis. Dimulai dari aset yang sangat terbatas, tim yang sedikit, tetapi berkembang seiring dengan pertumbuhannya.

Kita tidak harus memulainya dari menyewa kantor, jika tim bertambah satu atau dua orang saja, mungkin cukup menggunakan co-working space sebagaimana sudah banyak ada di kota-kota besar. Bahkan co-working space memudahkan kita terkoneksi dengan profesional lainnya sebagaimana dilakukan oleh Faye Alund pendiri Working Space.

 

Tugas karyawan pun dimasa-masa rintis ini saling rangkap, mulai dari buka kantor, entri data, sampai mengelola situs web dan media sosial plus pemasarannya. Itu sebabnya untuk awal, rekrutlah staf untuk melakukan pekerjaan administratif, yang sudah tidak lagi bisa kita lakukan sendiri, Mulai dari bikin invoice, nota pembayaran, dan sejenisnya.

 

Sebisa mungkin yang multitasking. Jadi, ketika situasi tidak ada pekerjaan administratif yang harus dilakukan, kita bisa memintanya sebagai pengelola situs web, media sosial atau membuat proposal penawaran. Ini perlu disiapkan saat proses rekruitmen, pastikan calon karyawan tersebut menguasai spesifikasi kerja yang kita butuhkan.

 

Untuk menekan biaya kita bisa menggunakan anak-anak kuliahan atau fresh graduated dari sekolah-sekolah kejuruan. Satu hal lagi, selain soal SDM, strategi di fase ini adalah FOKUS!! Saya sering menyampaikan kalau gagal fokus adalah kondisi yang paling sering dialami oleh kreator muda.

Kebanyakan para pemula, mereka sudah mencabangkan bisnis atau mendirikan usaha lainnya, padahal usaha pertamanya sendiri belum stabil. Ibaratnya pohon, kita harus menguatkan akarnya dulu sebelum bercabang. Kita bisa melakukan diversifikasi jika usaha pertama sudah besar dan mapan.

 

Jika sistemnya sudah jalan dan dikelola oleh profesional yanh ahli di bidang tersebut, disitulah kita bisa membuat usaha lainnya. Ini baru bisa dilakukan ketika usaha berada di fase stabil dan membutuhkan ekspansi.

Tantangan lain yang akan dirasakan pada fase ini adalah terkurasnya energi yang kita miliki, terlebih jika jumlah klien dan proyek yang kita peroleh sudah semakin banyak, sedangkan tim kerja rata-rata masih skala pemula yang belum berpengalaman, akan ada banyak hal yang kita kerjakan sendiri. Sebelum kita memiliki manajer ahli yang bisa kita gaji dengan layak, bertahanlah dengan mengeluarkan 100% energi untuk berkarya.