nicky
“Rahasia” Nick D’Aloisio Jadi Entrepreneur Di Usia Remaja
February 25, 2014
rumahjepang
10 Rahasia Sukses Orang Jepang
March 12, 2014

Bisnis Itu Rahmatan Lil ‘Alamin

islam

Sudah hampir dua minggu ini saya menjalani “laku karantina”. Ini istilah saya untuk aktivitas saya berkonsentrasi menulis buku di rumah (atau di tempat sepi tertentu, seperti di Puncak) dimana HP/BB dimatikan dan sesedikit mungkin mengurangi kontak dengan dunia luar. Intinya, untuk sementara saya menjadi “manusia gua” yang terbebas dari hiruk-pikuk belantara Jakarta.

Musababnya gampang ditebak, karena deadline peluncuran buku sudah di ujung tanduk. Kadangkala saya berpikir, ini barangkali tips paling cespleng untuk menulis buku. Tetapkan hari H waktu peluncuran buku, undang sebanyak mungkin orang, termasuk tokoh-tokoh penting, makin banyak tokoh penting makin bagus. Maka dari situ akan bisa ditebak kita akan jatuh-bangun dan mengeluarkan jurus-jurus kepepet agar buku selesai ditulis.

Dari puluhan buku yang sudah saya tulis selama hampir 15 tahun terakhir, harus diakui kiat satu ini memang ampuh… hehehe. Begitu kita kepepet, energi layaknya air bah keluar meluap-luap. Begitu kepepet maka andrenalin terpacu dan otak berpikir keras dan ujungnya jurus-jurus ampuh keluar, termasuk salah satunya adalah “laku karantina” ini.

Mega Thinking
Buku yang sedang saya riset dan tulis kali ini adalah mengenai transformasi Telkom Indonesia. Seperti kita tahu Telkom (dan seluruh telco di dunia) saat ini sedang mengalami gonjang-ganjing industri, sehingga kalau tidak melakukan tough transformation akan gampang ditelan perubahan.

Telkom cukup sukses membesut transformasinya melalui berbagai inisiatif seperti transformasi manusia, antara lain melalui pembentukan Telkom Corporate University (CorpU) dan Global Talent Program (GTP); transformasi bisnis dengan memperluas cakupan bisnisnya mengarah ke telecommunications, information, media, edutainment, services (TIMES); juga ekspansi ke pasar hot di luar negeri (disebutInternational Expansion, InEx) seperti Hong Kong, Timor Leste, dan Australia.

Bagi saya yang paling menarik dari keseluruhan proses perubahan di Telkom adalah sebuah prinsip yang oleh CEO-nya pak Arief Yahya disebut: “mega thinking”. Intinya prinsip ini mengatakan bahwa untuk mencapai suatu tujuan tertentu Anda harus memulainya dari tujuan maha besar (mega). Ketika tujuan mega terwujud maka pasti dengan sendirinya tujuan-tujuan yang lebih kecil akan terwujud.

Pak AY (demikian Arief Yahya biasa dipanggil di Telkom) memberikan contoh misi dan tujuan Telkom. “Telkom ada untuk memberikan yang terbaik bagi Bangsa Indonesia dan bahkan bagi umat manusia,” ujarnya, “dengan demikian Telkom harus menjadi rahmatan lil ‘alamin.” Yes, menjadi rahmat bagi alam semesta.

Giving
Ungkapan pak AY tersebut nyleneh dari kebanyakan misi/tujuan perusahaan lain, karena kebanyakan perusahaan menetapkan tujuan bisnisnya sebagai: menciptakan excellent value ke konsumen, karyawan, dan pemegang saham. Pertanyaannya, apakah kalau pak AY menetapkan tujuan bisnis Telkom adalah untuk Indonesia dan umat manusia, itu berarti bahwa dia tak peduli dengan profit?

Anda salah besar. Kata pak AY, jika Telkom bisa mempersembahkan excellent value bagi bangsa Indonesia dan umat manusia di seluruh dunia, maka secara otomatis ia akan mampu mempersembahkan excellent value bagi industri (makro) dan konsumen (mikro). Kalau Telkom bisa memberikan value terbaik kepada konsumennya, maka secara otomatis pula ia akan bisa memberikan value terbaik bagi pemegang saham dan karyawan. Jadi pemikirannya di balik, dicapai yang besar terlebih dahulu (mega), baru kemudian dengan sendirinya didapatkan capaian-capaian kecil (makro dan mikro).

Pak AY memberikan contoh gampang Google. Tak bisa dibantah lagi bahwa Google memberi kemanfaatan luar biasa kepada seluruh umat manusia melalui mesin pencari Google Search, layanan surat elektronikGmail, atau layanan video sharing YouTube. Ketika ia telah mewujudkan capaian mega, maka secara otomatis ia juga memberikan excellent value ke konsumen, karyawan, dan pemegang saham. Ke pemegang saham misalnya, saat ini kapitalisasi pasar saham Google mendekati USD300 miliar (nomor 3 di dunia setelah Exxon dan Apple) dengan pertumbuhan nilai saham yang mengesankan.

Google memberikan pelajaran berharga bagi kita, bahwa yang penting adalah memberi terlebih dahulu, bukan selfish meminta. Begitu kita ikhlas memberi dan mendatangkan excellent value ke orang banyak, maka pasti dengan sendirinya kita akan mendapat anugerah setimpal bahkan lebih besar. Persis seperti dibilang pak AY: “Semakin banyak Anda memberi, maka semakin banyak pula Anda akan mendapatkan…the more you give, the more you get.”

Rahmat
Mengetahui prinsip bisnis mulia pak AY saya jadi berpikir. Alangkah indahnya jika seluruh perusahaan yang ada di negeri ini menggunakan prinsip mega thinking seperti dianut Telkom. Alangkah indahnya jika bisnis dikelola dengan prinsip-prinsip bahwa ia harus mendatangkan kebaikan, kemuliaan, dan kemakmuran bagi bangsa dan negara, dan seluruh umat manusia. Alangkah indahnya jika perusahaan dan bisnis bisa mendatangkan rahmat bagi alam semesta, rahmatan lil ‘alamin.

Saat pertama kali mendengar konsep mega thinking langsung dari pak AY saya seperti bermimpi. Saya seperti larut dan terbuai oleh indahnya dunia yang dipenuhi pelaku-pelaku bisnis mulia, yang tidak selfish dan selalu menempatkan bangsa, negara, dan umat manusia sebagai prioritas utama bisnis mereka.

Namun tiba-tiba saya terbangun dari mimpi dan terbelalak melihat kenyataan yang terjadi di sekitar kita. Ya, karena masih banyak kejadian di sekitar kita di mana pelaku bisnis bukan menggunakan perusahaan dan bisnisnya untuk mendatangkan rahmatan lil ‘alamin, tapi justru sebaliknya untuk mendatangkan keburukan, kerugian, kemungkaran.

Masih banyak kita dapati perusahaan dan bisnis digunakan sebagai wahana mengkorupsi uang rakyat. Masih banyak perusahaan dan bisnis digunakan sebagai alat untuk menyuap pejabat negara. Masih banyak perusahaan dan bisnis digunakan untuk mengeruk kekayaan alam dan membinasakan lingkungan. Masih banyak perusahaan dan bisnis digunakan untuk membunuh sesama.

Bisnis itu indah. Bisnis itu mulia. Bisnis itu rahmatan lil ‘alamin. Itu kalau para pelaku bisnis menyikapinya dengan ikhlas dan nurani yang bening. (Yuswohady)

Sumber: http://www.rumahwirausaha.com/berita-bisnis-itu-rahmatan-lil-%E2%80%98alamin.html