Entrepreneurship Itu Diterapkan, Bukan Dipelajari

Fokuslah dalam Menjalankan Bisnis
June 11, 2013
DKI Gelar Pameran Produk Kreatif 14-16 Juni
June 13, 2013

Entrepreneurship Itu Diterapkan, Bukan Dipelajari

Sosiolog David McClelland berpendapat,”Suatu negara bisa menjadi makmur bila ada entrepreneur (pengusaha) sedikitnya 2% dari jumlah penduduknya”. Menjadi pengusaha saja tidak akan mampu membawa kemakmuran bilamana pelaku usaha tidak berjiwa socialpreneur serta tidak menunaikan hak dan kewajibanya baik sebagai warga Negara maupun sebagai makhluq social.

Bagaimana dengan Indonesia?ternyata Indonesia hanya memiliki 0,18% dari jumlah penduduk atau 400.000-an orang saja yang menjadi pengusaha. Angka tersebut masih jauh dari angka kemakmuran jika mengacu jumlah entrepreneur (pengusaha) 2 %. Bila dibandingkan dengan negara Singapore, mereka memiliki 7% populasi penduduknya sebagai pengusaha. Sungguh ironis mengingat hal tersebut terjadi di negeri yang kaya akan sumber daya alam.

Untuk menuju angka 2% saat ini pembelajaran mengenai entrepreneurship sedang digalakkan terbukti dengan dimasukkannya kurikulum kewirausahaan diberbagai perguruan tinggi negeri atau swasta. Namun harapan akan tinggal harapan jika tidak disertai dengan atmosfir akademik yang mendukung. Tentu saja memasukkan kedalam kurikulum saja tidak cukup perlu adanya sebuah wadah untuk aplikasi dan perlu diperkenalkan sejak dini.

Berangkat dari hal tersebut sejumlah mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya membentuk komunitas bisnis dengan nama EEBC(Economic Entrepreneur Building Community). Komunitas yang bermarkas di gedung bisnis center Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya ini berdiri karena kegamangan para mahasiswa melihat banyaknya program tentang kewirausahaan namun belum berjalan secara maksimal. Program tersebut diantaranya PMW (Program Mahasiswa Usaha), PKM-K (Program Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan), Bussines Plan Conpetition dll. Program tersebut mahasiswa diminta untuk membuat proposal business plan kemudian jika dinyatakan layak dari berbagai aspek akan mendapatkan dana untuk merintis usaha.

Namun masih banyak mahasiswa yang menganggap sebagai program. Alhasil program selesai usaha yang dirintis selesai pula. Nah melihat fenomena ini mahasiswa fakultas ekonomi unesa pegiat wirausaha membentuk komonitas EEBC sebagai wadah untuk sharing bisnis, konsultasi bisnis, dan menampung produk-produk hasil PMW, PKM kemudian bersama-sama memasarkan produk tersebut.

Melalui komunitas kecil ini berharap seluruh mahasiswa yang mempunyai jiwa bisnis bisa andil untuk bergabung bersama dalam komunitas ini mengingat komunitas ini terbuka untuk umum bukan hanya mahasiswa fakultas ekonomi. Dengan begitu mahasiswa benar-benar menerapkan entrepreneur bukan sekedar mempelajari. Dengan begitu mereka akan menjadi mahasiswa yang mandiri dan berdikari berdiri diatas kaki sendiri.

Sumber : http://fe.unesa.ac.id/berita/read/108/2013/05/Entrepreneurship_Itu_Diterapkan_Bukan_Dipelajari.html