sedekah
Keutamaan Sedekah
June 17, 2013
karyawanpengusaha-520x250
Ini Cara dari Karyawan Jadi Pengusaha
June 24, 2013

PKL Mitra Strategis Pemerintah

Meracik-Tahu-gejrot

Sudah 33 tahun, Tohari menjadi penjual tahu gejrot keliling. Berkelana dari Brebes-Jawa Tengah, Tohari muda awalnya menjajal Bandung-Jawa Barat selama lima tahun, memukul-mukul piring mempromosikan tahu gejrot.

Tohari muda tak pernah tahu bagaimana harus membuat tahu gejrot. Sedari kecil tak terlintas dalam pikirannya menjadi pedagang tahu. Seorang tetangga yang sudah lebih dahulu menjual tahu di Bandung datang menghampiri Tohari yang masih segar bugar usai jadi pengantin baru.

“Saya baru nikah, tapi tidak punya kerjaan. Diajak ke Bandung cari kerja,” kenang Tohari. Di Bandung, pria yang kemudian memiliki enam anak dan delapan cucu sempat menikmati masa-masa sukses. Dalam setahun ia dua kali pulang ke Brebes, menyetor uang hasil kerjanya kepada istrinya. Namun, tiba-tiba istrinya jatuh sakit dan meninggal dunia tanpa sempat ia rawat.

Ia tak sempat melihat jasadnya. “Saya kebingungan. Teman yang ngajak saya jualan tiba-tiba hilang juga, nggak pernah ketemu sampai sekarang,” ujarnya sambil menghela nafas panjang. Lengkaplah kesedihan Tohari. Sampai kemudian suatu sore, Tohari diajak temannya yang juga penjual tahu gejrot di sekitar Gedung Sate-Bandung, mengarung pahit-manisnya jualan di ibukota. Ia antusias dengan ajakan itu. Berbekal modal yang cukup dari hasil kerjannya setelah tidak lagi dikirim ke istrinya, ia mantap menatap Jakarta.

Naik krata api, berhenti di Stasiun Manggarai. “Kami kos di Manggarai (Jakarta Selatan), tahun 1980-an, enam orang sekamar,” kata sambil tertawa. Ia berharap setelah lima tahun memukul-mukul piring kosong di Bandung, suara piring kosong tahu gejrotnya di Jakarta akan lebih nyaring.

Tohari yang menikah hingga empat kali mulai menjual tahu gejrot di kawasan Menteng dan Kuningan dengan harga Rp 25,-/porsi. Dengan senyum lebar, ia mengurai kemolekan dua istri yang ia ceraikan ketika berbincang dengan SH di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (14/2) siang lalu. “Cakep semua, tapi anak semua dari istri keempat. Anak bungsu sekolah di kampung istri, di Sukabumi,” jelasnya.

Kedua bola mata Tohari kini mulai rabun dimakan usia. Sesekali ia menyeka wajah keriputnya yang berkeringat dengan handuk putih kehitam-hitaman. Baju kaos putih lengan panjang tampak pudar disengat panas. Sandalpun sudah banyak bekas jahitan. Topi koboi hitam tak pernah lepas untuk menutupi rambut putih yang sudah jarang. Dengan sangat santun ia mengelak ajakan merokok saat itu.

Kini Tohari menjual tahu gejrot Rp 5.000/porsi. Dalam sehari ia menjual antara 50-70 piring setelah berjalan kaki antara 15-20 kilomenter. Untungnya tak lebih Rp 50.000. Keuntungan itu dipakai untuk membayar kontrakan 3X4m di pinggir rel Stasiun Kreta Api Manggarai sebesar Rp 200.000/bulan dan menghidupi istri dan satu anaknya yang belum sepenuhnya mandiri.

“Kalau siang saya pulang makan. Istri saya masak di kontrakan. Tapi bayar. Anak saya juga kalau makan ya bayar ke istri. Itu buat beli beras dan kalau mau makan lauk,” katanya. Beruntung seorang anaknya yang menjadi pedagang duren di kawasan pasar minggu mau tinggal bersamanya. Dengan demikian bayar kontrakan bisa dibagi dua orang.

Jika masih dalam usia muda, klaim Tohari, dia bisa saja mendapat untung lebih besar. Setidaknya masih bisa menjajal jarak sambil mengendong keranjang merahnya lebih panjang dan mengaduk bumbu lebih cepat. Namun, fisik tak bisa menipu. Kalau pamasok tahu dari Pondok Labu-Jakarta Selatan datang tepat waktu, pria yang giginya hampir punah itu sudah puas. Harga cabai rawit yang terus melambung dan kurang pedas kerap membuatnya was-was.

Ia hanya bisa tersenyum sambil mengusap-usap dagunya saat mendengar pidato Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan dan Wakil Ketua DPR Priyo Budisantsoso siang itu di bawah Patung Proklamator Indonesia Soekarno dan Hatta. Entah apa perasaannya dengan berbagai istilah yang dilontarkan petinggi Partai Demokrat dan Partai Golkar itu. Syarif yang berpidato saat perayaan Hari Kebangkitan Nasinoal Pedagang Kaki Lima mengatakan pedagang kaki lima (PKL) merupakan mitra strategis pemerintah dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

PKL bukan perusak lingkungan, kata Syarif, tetapi kehadiran PKL bisa memperindah lingkungan, objek pariwisata yang patut didukung, dibina, difasilitasi dan dikembangkan. “PKL memiliki multiplier effect yang luar bisa jika kita kelola dengan baik,” kata Syarif.

Ia berharap setiap PKL memiliki imajinasi, dari pedagang keliling atau pinggir jalan, menjadi pengusaha menengah dan kemudian pengusaha besar yang memiliki kantor sendiri. “Kalau sekarang lihat orang lain bawa mobil mewah, PKL juga harus punya mimpi suatu waktu bisa punya mobil yang sama. PKL punya potensi untuk itu,” tegasnya.

Setidaknya ada 25 juta PKL seluruh Indonesia saat ini. Jika PKL ini dimasukan dalam wadah koperasi, menurut Syarif, hal itu akan menjadi kekuatan ekonomi utama Indonesia. Negara-negara yang memiliki koperasi sukses tidak pernah memiliki anggota sebanyak itu. “Jadi stop penggusuran PKL, pemberdayaan, yes,” tambahnya.

Sementara Priyo Budisantsoso mengatakan niat pemerintah dan kepemimpinan yang baik akan sangat menentukan nasib PKL. PKL adalah aset negara, penyokong utama ekonomi kerakyaratan. Globalisasi tidak boleh menghancurkan PKL, sebaliknya negara harus memperkuat PKL. “Mereka ini yang paling dekat dengan masyarakat,” ujar Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) tersebut.

Ketua Umum APKLI Ali Mahsun mengatakan PKL saat ini berhadapan dengan monster ekonomi global. Sekarang desain ekonomi lebih banyak mempertimbangkan cari untung. Nilai-nilai sosial, keluhuran martabat manusia diabaikan. Akibatnya mall tumbuh di mana-mana dan masyarakat kecil tersisihkan. “Ada salah kaprah terhadap PKL. PKL sering dilihat sebagai penghambat ekonomi kita,” katanya. Itulah penyebab Tohari sampai tua hanya bisa jadi penjual tahu gejrot keliling, tidak pernah dipandang sebagai aset negara.

Sumber : http://www.wartaukm.com/pkl-mitra-strategis-pemerintah#sthash.WCoCcQwT.dpuf